Bupati Kudus Teladan Masyarakat

PEKALONGAN- Sudah menjadi rahasia umum bila Bupati Kudus H. Musthofa seorang kepala daerah yang sangat dekat dengan ulama. Bahkan lebih dari itu, Bupati dua periode ini sangat tawadu kepada ulama. Sowan pada kiai/ulama telah menjadi kebiasaannya.

Menurutnya, ulama dan umaro (pemerintah) adalah dua unsur yang tidak terpisah. Kedua dalam satu ikatan dan berperan penting dalam menjaga keutuhan bangsa dalam membangun dan menjaga NKRI.

Dalam berbagai kegiatan di Kudus, Musthofa sangat memposisikan keberadaan ulama. Di antaranya beberapa kali KH. Maemun Zubair asal Rembang tampil bersama bupati.

Pengasuh ponpes Al-Anwar Sarang, Rembang ini banyak memberi petuah kepada umat pada umumnya dan bupati dan jajarannya pada khususnya sebagai umaro.

Ketawadu’an Musthofa kepada ulama sudah dilakukan jauh sebelum menjabat sebagai Bupati. Karena sejak kecil sudah ditempa dengan pendidikan agama, baik pendidikan sekolah formal maupun informal.

Diawali dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Khoiriyah desa Getas Pejaten Kecamatan Jati Kabupaten Kudus. Sehingga tidak mengherankan apabila Musthofa meskipun berorganisasi politik nasionalis, tetapi sangat religius.

Bahkan dalam setiap kunjungan kerja di luar Kudus, Musthofa selalu menyempatkan sowan ke ulama daerah yang dikunjunginya tersebut. Di antaranya saat kunjungan kerja di Pekalongan, Senin (4/12).

Musthofa sowan ke Rois Syuriah PCNU Kota Pekalongan KH. Zakaria Ahmad. Dia diterima secara pribadi pengasuh pondok pesantren Al-Mubarok ini. Keduanya tampak akrab berbincang di kediaman Pak Kiai di Medono.

KH Zakaria tertarik dengan berbagai program pro rakyat Bupati Kudus. Karena mengurus orang dari lahir hingga meninggal. Dan inilah program yang sangat memberi manfaat untuk masyarakat.

“Pak Musthofa dengan programnya ini bagus. Dan cita-citanya ini mulia untuk masyarakat secara luas,” kata KH Zakaria.

Selain itu, sebelumnya saat kunjungan kerja ke Wonosobo, Musthofa secara khusus meluangkan waktu sowan ke kediaman Ketua PCNU Wonosobo, KH. Ahmad Shiddiq yang juga pengasuh ponpes Tahfidz Safinatunnajah Kalibeber, Wonosobo.

Begitu juga saat kunjungan kerja di Purbalingga, Musthofa bersilaturahmi ke Rois Syuriyah PCNU Purbalingga KH Ahmadi Nurcholish. Di tempat ini Musthofa mendapat banyak petuah yang sangat universal, seperti soal kesabaran dan keteladanan sebagai seorang pemimpin.

Selain itu, Musthofa juga selalu menjaga silaturahmi dengan ulama lainnya, seperti KH Musman Tholib dari Muhammadiyah. Juga dekat dengan KH Prof. Rofiq Anwar dari UIN Walisongo Semarang dan lainnya. Termasuk dekat dengan Ketua MUI Jateng, KH Ahmad Daroji yang pernah bersama-sama menjadi anggota DPRD Jateng.

Sedangkan di Kudus, Musthofa sangat dekat dengan seluruh kiai dan ulama, seperti kiai kharismatik KH Syaroni Ahmadi. Serta para kiai lainnya diantaranya KH. Ulil Albab Arwani, KH. Mustamir, alm. KH. M. Syafiq Naschan, alm. KH. Ma’ruf Irsyad, KH. Masruchin (Imam Masjid Agung Kudus) ¬†Begitu pula dengan Ketua MUI KH. Ahmad Hamdani, Lc.

Khotib Sholat Jumat

Sedangkan dengan para kiai pengasuh musala dan masjid yang ada di kampung-kampung, kedekatan Musthofa sudah tidak bisa diragukan lagi. Dengan program jumatan bersama, Musthofa berjamaah di masjid desa di seluruh pelosok Kudus. Kadang Musthofa jadi jamaah, tetapi sekali waktu Musthofa juga menjadi khotib salat jumat.

Meski pun sangat tawadlu’ dengan para ulama, Musthofa juga tidak melupakan tokoh agama lainnya. Dalam berbagai kegiatan resmi pemerintahan Tokoh lintas agama sering diundang semua di pendopo Kabupaten Kudus. Sehingga spirit Sunan Kudus yang mengajar harmonisasi toleransi beragama benar-benar terasa.(*)